Ketika tempat ini menjadi kosong

Pagi tadi aku melintas jalan ini lagi, tiba-tiba terlintas cerita beberapa tahun lalu, kenangan datang dengan keindahannya tersendiri. Bumi Beringin yang diselimuti dingin malam di halaman belakang tempat kita menikmati malam sambil menatap lalu lintas jalan Sam Ratulangi ditemani gitar tua hingga pagi datang. Nampak laju kendaraan yang lalu lalang melahirkan kebodohan dan kebahagiaan. Kita disentuh oleh hasrat dan mempermainkannya, kala itu kita hanyut dalam heningnya malam

Romantisme tempat ini adalah mimpi panjang kita, berjalannya kesaksian mutlak akan hidup yang berjuang mencari hidup dan menggapai mimpi. Setapak demi setapak kita melangkah benar dengan tangis dan kesabaran. Dinding-dinding studio ini mencatat jelas semua mimpi-mimpi kita, betapa besar kebahagiaan telah kita peroleh.

Menghirup nafas segar udara Bumi Beringin dalam hijau daun dan ikan bakar, tawa kita terbahak lepas tanpa kendali menyinggung bintang-bintang malam. Meja bulat tempat kita berdiskusi itu telah lama kosong dan semoga cerita kita tidak ikut menguap disana.

Aku nulis ini dengan air mata yang menggenang-genang di pelupuknya. Tampaknya kata ’sobat’ terlalu dangkal untuk dilekatkan padamu. Tapi tak kutemukan kata yang lebih daripada itu; barangkali karena bahasa menemui keterbatasannya, dipermalukan oleh ketidakmampuannya menggambarkan rasa.

Apa yang sudah kita alami bersama? Banyak, cukup banyak untuk membuat rasa kehilangan itu begitu nyata. Kehilangan yang tak tergantikan, karena nggak ada yang bisa menggantikan. Semua orang punya tempat, dan ketika tempat itu menjadi kosong ketika ditinggalkan, aku hanya bisa mengenangnya.

Sobat, tampaknya ini akan menjadi sebuah tulisan yang buruk. Kamu pasti tertawa, dan aku rindu untuk menertawaimu juga. Begitu sering kita berbeda pendapat, saling tuduh, saling memojokkan, saling kritik… dan betapa kita bisa menikmati semuanya. Inilah kesejatian persahabatan. Nggak gampang membangun kesejatian semacam ini dengan orang-orang yang kita kenal, Sobat…, mereka yang bersama-sama dengan kita, berani melintasi batas-batas antara konflik dan kenyamanan, resiko dan rasa aman…

Dua hari lagi ulang tahun mu, Aku ingin mengucapkan Selamat ulang tahun, Sobat… Semoga tulisan ini sampai kepadamu. Semoga juga, aku nggak terlalu berat membebani kata-kata dalam tulisan ini, sehingga mereka nggak tenggelam di pantai ketika berusaha untuk mencapaimu.

Kepada Tuhan senantiasa Do’a kupinta, Agar seribu Malaikat membimbing setiap jengkal langkah dirimu……..
Sejuta Cahaya tak pernah padam menerangi jalanmu……dan tak terbilang tangan menjaga dirimu dari aral yang menyimpang….Semoga Tuhan mendengar & mengabulkan do’aku untukmu Sahabatku……

Bumi Beringin, 17 November 2009
Ketika tempat ini menjadi kosong…

11 thoughts on “Ketika tempat ini menjadi kosong

  1. tempat itu telah kosong, bisa, kini. namun jangan biarkan kekosongan memangsa kita perlahan. biarlah kita yang pernah menempatinya menjadi isi sejatinya dimana pun kita saat ini bernapas, berkarya… rasa sedih & prihatinku juga tak bisa dipungkiri hadir dalam benakku. hanya doa yang bisa kuikutsertakan dalam berlalunya pagi & malam. untuk sobatmu, untuk saudaraku..

  2. sahabat…………slmat ulta sahabat semga Tuhan selalu membimbing ,menjaga,memberi jalan yan lurus,dan selalu beserta engkau dlm setiap langkah2 mu sahabat…..

  3. To : Ipul
    Pasti sobatmu senang dengan Kado Ulang Tahun ini iPul…thx ya…🙂 (bagimana supaya dia baca kang???) hiihhii..hiihii…; atas nama SOBAT !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s