Pemimpin Adalah Cerminan Rakyatnya

urban-planner-58082e5cb37e61350b0aa943

Bincang sore sambil menyeruput teh manis selepas magrib, seorang kawan bertanya kepada saya, “tipe pemimpin seperti apa yg kamu idamkan di era sekarang ini, Pul?” Sambil senyum ๐Ÿ˜Š karena mikir ๐Ÿค” apa yang melatar belakangi sehingga dia bertanya demikian (mungkin karena realita politik yang terasa pahit atau memang karena suhu politik di negeri ini so mulai membara sto ๐Ÿ˜ ah… entahlah). Namun tanpa ada unsur kepentingan politik apapun saya mencoba menjawabnya.

Tipe pemimpin yg saya idamkan yaitu pertama, seorang yg memimpin dengan akhlak dan keteladanan, jadi orang yang dipimpinnya akan mendapat pengaruh yg baik dari pola kepemimpinannya.

Kedua, seorang pemimpin itu dapat merepresentasikan wajah arsitektur kotanya atau wilayah yang dipimpinnya itu sehingga memberikan cerminan prilaku positif bagi rakyatnya yang dijabarkan lewat tata ruang wilayah dan tata kelola kepemimpinannya.

Ketiga, seorang pemimpin yang bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan, karena kualitas kepemimpinan seseorang berada pada akumulasi keputusan yg diambil. Karena memang tugas seorang pemimpin itu dapat membawa perubahan yg positif dan mengakselerasi kemajuan.

Namun perlu diingat bahwa perubahan positif tidak harus datang dari pemimpin suatu wilayah saja, partisipatif aktif masyarakat juga sangat penting. Jadi teringat guru ngaji saya pernah menyampaikan bahwa kadang kita sebagai rakyat jelata selalu menyalahkan sang pemimpin atas apa yang terjadi. Pemimpin jadi tumpahan kesalahan atas kerusakan yang terjadi di mana-mana. Pemimpin yang jadi biang kesalahan atas korupsi di berbagai jajaran. Semua gara-gara sang pemimpin. Kenapa setiap orang tidak mengintrospeksi diri sebelum menyalahkan sang pemimpin. Yang patut dipahami, pemimpin adalah sebenarnya cerminan dari rakyatnya.

Ibnu Qayyim Al Jauziyahย ุฑูŽุญูู…ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู mengatakan,

ูˆุชุฃู…ู„ ุญูƒู…ุชู‡ ุชุนุงู„ู‰ ููŠ ุงู† ุฌุนู„ ู…ู„ูˆูƒ ุงู„ุนุจุงุฏ ูˆุฃู…ุฑุงุกู‡ู… ูˆูˆู„ุงุชู‡ู… ู…ู† ุฌู†ุณ ุงุนู…ุงู„ู‡ู… ุจู„ ูƒุฃู† ุฃุนู…ุงู„ู‡ู… ุธู‡ุฑุช ููŠ ุตูˆุฑ ูˆู„ุงุชู‡ู… ูˆู…ู„ูˆูƒู‡ู… ูุฅู† ุณุงุชู‚ุงู…ูˆุง ุงุณุชู‚ุงู…ุช ู…ู„ูˆูƒู‡ู… ูˆุฅู† ุนุฏู„ูˆุง ุนุฏู„ุช ุนู„ูŠู‡ู… ูˆุฅู† ุฌุงุฑูˆุง ุฌุงุฑุช ู…ู„ูˆูƒู‡ู… ูˆูˆู„ุงุชู‡ู… ูˆุฅู† ุธู‡ุฑ ููŠู‡ู… ุงู„ู…ูƒุฑ ูˆุงู„ุฎุฏูŠุนุฉ ููˆู„ุงุชู‡ู… ูƒุฐู„ูƒ ูˆุฅู† ู…ู†ุนูˆุง ุญู‚ูˆู‚ ุงู„ู„ู‡ ู„ุฏูŠู‡ู… ูˆุจุฎู„ูˆุง ุจู‡ุง ู…ู†ุนุช ู…ู„ูˆูƒู‡ู… ูˆูˆู„ุงุชู‡ู… ู…ุง ู„ู‡ู… ุนู†ุฏู‡ู… ู…ู† ุงู„ุญู‚ ูˆู†ุญู„ูˆุง ุจู‡ุง ุนู„ูŠู‡ู… ูˆุฅู† ุงุฎุฐูˆุง ู…ู…ู† ูŠุณุชุถุนููˆู†ู‡ ู…ุงู„ุง ูŠุณุชุญู‚ูˆู†ู‡ ููŠ ู…ุนุงู…ู„ุชู‡ู… ุงุฎุฐุช ู…ู†ู‡ู… ุงู„ู…ู„ูˆูƒ ู…ุงู„ุง ูŠุณุชุญู‚ูˆู†ู‡ ูˆุถุฑุจุช ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ู…ูƒูˆุณ ูˆุงู„ูˆุธุงุฆู ูˆูƒู„ู…ุง ูŠุณุชุฎุฑุฌูˆู†ู‡ ู…ู† ุงู„ุถุนูŠู ูŠุณุชุฎุฑุฌู‡ ุงู„ู…ู„ูˆูƒ ู…ู†ู‡ู… ุจุงู„ู‚ูˆุฉ ูุนู…ุงู„ู‡ู… ุธู‡ุฑุช ููŠ ุตูˆุฑ ุงุนู…ุงู„ู‡ู… ูˆู„ูŠุณ ููŠ ุงู„ุญูƒู…ุฉ ุงู„ุงู„ู‡ูŠุฉ ุงู† ูŠูˆู„ู‰ ุนู„ู‰ ุงู„ุงุดุฑุงุฑ ุงู„ูุฌุงุฑ ุงู„ุง ู…ู† ูŠูƒูˆู† ู…ู† ุฌู†ุณู‡ู… ูˆู„ู…ุง ูƒุงู† ุงู„ุตุฏุฑ

โ€œSesungguhnya di antara hikmah Allah Taโ€™ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.”

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah ๏ทป, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah ๏ทป, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Muโ€™awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah ๏ทป.

Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan umat ini untuk menjadi lebih baik, maka hendaklah setiap orang mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri, bukan mengubah penguasa yang ada. Hendaklah setiap orang mengubah dirinya yaitu dengan mengubah aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalahnya.

Yang terakhir tipe pemimpin yang saya idamkan bahwa seorang pemimpin haruslah telah memiliki perencanaan yg matang untuk setiap program dan juga kebijakan yg akan dilakukan…”

Sosok seperti itulah pemimpin yang saya idamkan kawan, semoga saja Allah ๏ทป menganugerahkan seorang pemimpin yang bijaksana untuk kita… *sambil menikmati menyeruput teh manis sebelum maghrib… ๐Ÿค”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s